Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Legenda Asal-Usul Marga Saragih Dasalak


Lukisan Sungai Padang (Koleksi Tengku Muhar)

"Meski Tuanku Umar gelar Baginda Umar Saleh Qamar berdarah bangsawan Aceh yang kelak menurunkan zuriat Kemelayuan di Tebing Tinggi, namun rasa terima kasih telah dianggap anak olek Raja Tongkah ber-clan Saragih, menjadi ucapan dari mulut ke mulut bahwa zuriat Melayu di Tebing Tinggi mengaku clan Saragih pula. Hal ini mungkin pula berunsur politis, karena kekuasaan laskar Raya dan wilayah berhampiran dengan Kerajaan Negeri Padang banyak dihuni orang Simalungun, hingga menyebut diri Saragih menjadi proses pendekatan psikologis". - Tengku Muhammad Muhar Omtatok

LEGENDA 1
Menurut Naskah tua pusaka dari zuriat Kerajaan Negeri Padang, yang ditulis dalam aksara arab berbahasa melayu, asal-usul dari berdirinya Kerajaan Negeri Padang yang disalin selengkapnya sebagai berikut:

Bismillaahirrohmaanirrohim
Bahwa adapun asal keturunan Raja di dalam Negeri Padang yakni turun dari hulu Raya pada zaman dahulu, adalah Raja Raya namanya Raja Gukguk.
Maka ianya pergi berburu pelanduk ke dalam hutan, sebab istrinya sedang bunting mengidam hendak makan pelanduk.

Maka pergilah Raja Gukguk beserta gamutnya (gamut: orang dalam, kepercayaan Raja) dan rakyatnya membawa anjing perburuan, setelah sampai di dalam hutan dilepasnyalah anjing perburuan.

Maka dari pagi-pagi hingga sampai tengah hari berburu itu tiada juga bertemu buruan. Maka Raja Gukguk dengan segala pengiringnya terlampau heran, sebab yang sudah-sudah berburu banyak memperoleh perburuan. Maka pada hari itu tiada bertemu pun.

Maka Raja Gukguk hendak pulang ke kampungnya. Maka tiba-tiba menyalak anjing kepada sepohonan buluh betung. Maka dilihat Raja Guk-Guk sebatang buluh seruas besar dan inilah yang disalak anjing. Maka disuruh Raja Guk-Guk ambil kepada gamutnya buluh yang seruas itu dan dibawa Raja Guk-Guk pulang ke rumahnya. Maka setelah sampai di rumah bertanyalah istri Raja Guk-Guk.
“ada dapat pelanduk berburu tadi?”
Maka jawab suaminya tiada seekor binatangpun dapat kami. Hanyalah yang dapat buluh betung buat ganti pelanduk.

Maka telah terlihat istri Raja Guk-Guk buluh itu, teramatlah suka hatinya dan tiadalah lagi mengidam hendak makan pelanduk.

Maka pada malam itu istri Raja Guk-Guk pun beranaklah seorang anak laki-laki. Dan buluh betung itupun belahlah dengan sendirinya dan keluar seorang anak laki-laki, teramatlah baik rupanya, putih kuning. Maka Raja Guk-Guk terlampaulah sukanya, karena memperoleh anak keluar dari buluh itu. Dan yang kata Raja Guk-Guk; “Inilah anak Nibata”.

Maka dipeliharanyalah seperti anak kandung, dan terlebih-lebih kasih sayangnya dari anaknya. Dan dinamainya Tuan Umar Baginda Saleh. Dan anaknya yang lahir itu dinamainya Raja Batuah Pinang Sori. Jadi bersaudaralah keduanya.

Kemudian daripada itu telah besarlah Umar Baginda Saleh maka dipintanyalah kepada Bapak angkatnya Raja Guk-Guk itu hendak pergi melihat laut, sebab terlampaulah ingin Baginda Umar Saleh. Maka Raja Guk-Guk pun susahlah hatinya karena tiada dirasanya mau bercerai dengan Umar Baginda Saleh. Dan takut Raja Guk-Guk kalau-kalau Umar Baginda Saleh tiada lagi pulang ke Raya. Maka sebab tiada boleh dilarangnya juga, jadi dibenarkannyalah Umar Baginda Saleh pergi hilir dan diberinya kawan Umar Baginda Saleh tujuh orang.

Maka Umar Baginda Saleh pun hilirlah, setelah beberapa hari dijalan sampailah ketepi laut. Maka Umar Baginda Salehpun berpikir, katanya:
“Lebih baik aku berbuat kampong dihilir ini”. Maka dicarinyalah tanah yang baik. Maka disuruhnya kawannya itu menebas dan bertanam pokok buah-buahan berjenis-jenis. Maka sebab itulah dinamainya “Kampung Bajenis” dan berladang-ladang atau berpadang-padang Umar Baginda Saleh disitu. Dan sebabitu dinamainya “Negeri Padang” sampai pada masa ini adanya.

Kota Tebing Tinggi Tempo Dulu

LEGENDA 2
Tersebutlah bahwa Raja Gug-gug adalah Raja Nabolon/ Raja Besar dan Otoriter, yang istilah saat itu disebut Raja Nengel/ Raja Pekak/ Tuli. Bukan tuli telinganya, sebab beliau tidak pernah menerima saran/ nasihat/ pandangan orang lain.

Tersebutlah dalam cerita/ turi-turian lama, bahwa Raja Nengel mempunyai seorang botow/ adik perempuan yang jelita, dan ia sangat sayang pada botownya tersebut sehingga digaulinya sendiri, sampai akhirnya berbadan dua.

Pada saat kondisi sang botow sudah sangat mencurigakan, maka sang botow tadi diungsikan ke luar kampong dengan sangat rahasia sekali. Pada saat yang bersamaan istri Raja juga sedang hamil, maka setelah beberapa lama, melahirkanlah, keduanya anak laki-laki. Bayi sang botow ditempatkan pada serumpun bambu.

Melalui suatu rekayasa (dengan alasan berburu paes/ pelanduk) sang bayi dibawa pulang dan diasuh oleh keluarga Raja Nabolon.

Putra Raja Nabolon dari permaisuri diberi nama Raja Tuah Pinang Sori, putera dari sang botow diberi nama Tuan Hapultakan Saragih Dasalak, setelah memeluk Agama Islam bergelar Tuan Hapultakan Umar Baginda Saleh Qamar.

Dalam proses perkembangan selanjutnya, kedua anak laki-laki ini tumbuh dengan sempurna, namun disana-sini ada perbedaan khas, Antara lain dalam hal pakaian, permainan dll.

Namun dalam hal keelokan tubuh, kecerdasan, ketangkasan dan lainnya Hapultakan mempunyai nilai lebih. Karena adanya perbedaan pelayanan ini, disaat keduanya menjelang dewasa, Hapultakan merasa perlu mengetahui dan menyelidiki latar belakang masalah ini. Memang dari dalam (lingkungan keluarga) Hapultakan tidak akan pernah mendapatkan informasi tentang perihal kelahirannya.

Akhirnya berkat kelihaiannya, didapat jugalah informasi tentang perihal kelahirannya yaitu dari seorang atau orang-orang, dimana ia dilahirkan dan tentang kelahirannya.
Dengan perasaan malu dan susah payah, ia tinggalkan kampong halamannya menuju ke hilir, yang disebut Raja Kahean. Disuatu hari ia dapatkan sebuah lokasi yang menurutnya cocok untuk tempat tinggal, tempat itulah yang disebut Kampung Bajenis sampai sekarang.

Dan ditempat inilah Kerajaan Negeri Padang didirikan/ dibangun oleh Tuan Hapultakan Saragih Dasalak dengan gelar Tuan Umar Baginda Saleh Qamar.

Kuli Cina Bekerja di Perkebunan Tebing Tinggi Milik Pribumi tahun 1930an

Posting Komentar untuk "Legenda Asal-Usul Marga Saragih Dasalak"