Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Raja Negeri Padang I dan Kerajaan Aceh

Raja Negeri Padang I adalah Uleebalang dari Kerajaan Aceh
Oleh Tengku Muhammad Muhar Omtatok

Penuturan Sejarah berikut berasal dari Tengku Muhammad Muhar Omtatok, puak melayu asal Luhak Tongkah Negeri Padang. Beliau merupakan keturunan dari Tengku Sortia bin Tengku Haji Jamta Melayu bin Tengku Tebing Pangeran (Raja Negeri Padang VII).

Sejarah Kerajaan Negeri Padang bisa dirunut dari Sejarah Aceh
Dimula tahun 1607 dibawah kepemimpinan Iskandar Muda, Aceh semakin berjaya. Ia menaklukkan Sumatera Timur, Tanah Melayu hingga Melaka,  guna menguasai hasil bumi untuk ekspor.
Bendera Kerajaan Aceh Darussalam
Banyak diturunkan pembesar kerajaan, misalnya Ulèëbalang ke wilayah Sumatera bagian timur. Sebut saja dua bangsawan Aceh beserta rombongan. Satu Ulèëbalang kelak menjadi zuriat Datuk Paduka Raja Batangkuis Kesultanan Serdang, ialah Ulèëbalang Lumu. Sedang satu bangsawan belia mendarat di Bandar Khalifah bernama Umar.

Tidak cukup menaklukkan Bandar Khalifah, Umar  menyusuri pedalaman di hulu Raya. Saat di hutan Tongkah, ia bertemu dengan rombongan Raja Tongkah ber-clan Saragih  yang sedang berburu pelanduk. Sekarang Tongkah ini bernama Kampung Muslimin dekat Nagaraja kecamatan Tapian Dolok (Perbatasan Serdang Bedagai dan Simalungun). Salak anjing buruan tak berani menggigit Umar, karena Umar seperti mampu menundukkan anjing menyalak. Raja itu terkagum-kagum melihat sosok Umar, lalu mengangkatnya menjadi putera angkat, karena Raja yang sudah berumur  itu belum memiliki keturunan.

Kota Tebing Tinggi Tempo Dulu

Sebagai anak dari ‘rumpun buluh’ (istilah lain untuk menyebut anak yang diangkat bukan dari pemberian orang tua kandungnya langsung, namun dianggap anak yang diutus Tuhan), kehadiran Umar ternyata membawa tuah, istri raja akhirnya melahirkan. Anak yang dilahirkan tersebut dinamai Raja Betuah Pinangsori. Demikian konon kabar hikayat.
Dada Mauraxa dan Tengku Luckman Sinar menulis, bahwa di wilayah Tongkah ini, diketahui adanya puing-puing peninggalan zaman Hindu purba, Rajanya pernah membantu temannya bernama Peresah untuk merebut tahta Kerajaan Nagur (Kerajaan sezaman Aru).

Ringkas kisah, Umar akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya ke hilir. Menyusuri hutan Tongkah menuju wilayah Bajenis (kini Kota Tebing Tinggi). Di wilayah yang berpadang di tempat tersebut, beliau memulai membangun kekuasaan dengan gelar Baginda Saleh Qamar pada 1630. Inilah awal berdirinya Kerajaan Padang, awal mula pemerintahan di Tebing Tinggi dan sekitarnya. Beliau mangkat pada 1640.

"Meski Tuanku Umar gelar Baginda Umar Saleh Qamar berdarah bangsawan Aceh yang kelak menurunkan zuriat Kemelayuan di Tebing Tinggi, namun rasa terimakaih telah dianggap anak olek Raja Tongkah, menjadi ucapan dari mulut ke mulut bahwa zuriat Melayu di Tebing Tinggi mengaku clan Saragih pula. Hal ini mungkin pula berunsur politis, karena kekuasaan laskar Raya dan wilayah berhampiran dengan Kerajaan Padang banyak dihuni orang Simalungun, hingga menyebut diri Saragih menjadi proses pendekatan psikologis".

Umar Baginda Saleh adalah Keturunan Kerajaan Darul Qamar
Oleh Tuan Ibnu Hibban dan kawan-kawan

Penuturan Sejarah berikut berasal dari Tim Penyusun, Tuan Ibnu Hibban dan kawan-kawan. Tuan Ibnu Hibban sendiri adalah keturunan puak melayu asal Rantau Laban Negeri Padang, Tebing Tinggi. Beliau juga merupakan keturunan garis lurus dari Tuanku Umar Baginda Saleh (Raja Negeri Padang I).

Kesultanan Bandar Khalifah dan Raja Negeri Padang I
Pada Abad ke XVI di Sumatera Timur terkenal dua buah kerajaan, yaitu:
1. Kerajaan Aru di Teluk Aru kemudian pindah ke Deli Tua, luasnya dari Tamiang sampai ke Sei Rokan; dan
2. Kerajaan Siak atau Gassip
Lambang Kerajaan Siak
Pada abad ke XVI Kerajaan Aru diserang Aceh, tepatnya pada tahun 1522 semasa pemerintahan Sultan Ali Mukhayatsyah berkuasa, tetapi pada tahun 1523 wilayah Aru diserang pula oleh Portugis dan tunduk padanya. Tahun 1524 Aceh menyerang Portugis dengan bantuan Aru, sehingga Aru takluk dan Portugis angkat kaki dari wilayah Aru. Terjadi beberapa kemelut di dalam Negeri Aceh sendiri sehingga pengawasan ke daerah/ rantau takluknya berkurang, maka Aru merdeka kembali.

Tahun1539 Kerajaan Aru tunduk kembali ke Aceh semasa Aceh di bawah Pemerintahan Sultan Al-Kahhar, tetapi tahun 1540 Kerajaan Aru merdeka kembali setelah dibantu Johor dan kemudian Kerajaan Aru direbut kembali oleh Aceh dan Sultan Johor ditawan dan dibawa ke Aceh serta dibunuh pada tahun 1564.

Tahun 1612 Gojah Pahlawan, Panglima Pasukan Aceh menjadi Yang Dipertuan Kerajaan Aru berkedudukan di Sunggal. Inilah Awal dari Kerajaan Deli dan tunduk ke Aceh sampai tahun 1641. Tahun 1669 Kerajaan Deli tunduk pula ke Siak, dan Siak tunduk ke Johor, berarti Deli menjadi jajahan Johor. Kemudian tahun 1717 Siak merebut kemerdekaannya kembali dari Johor dan Johor ditaklukkannya. Tetapi tahun 1722 Johor merdeka kembali dengan bantuan Bugis. Sedangkan tahun 1854 Deli tunduk lagi ke Aceh yang daerah taklukannya dari Tamiang sampai ke Rokan.

Demikianlah gambaran Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur ini, silih berganti tuan dan pada saat tertentu Kerajaan-Kerajaan tersebut merdeka kembali, karena lemahnya pengawasan dari Kerajaan yang menaklukkannya.

Diantara dua Kerajaan yang disebutkan diatas ada juga berdiri beberapa kerajaan kecil yang tidak begitu terkenal dan diantaranya menjadi taklukan atau daerah takluk Kerajaan Besar tersebut. Salah satu Kerajaan kecil itu terdapat sebuah Kerajaan yaitu Kesultanan Bandar Khalifah, terletak di muara sungai padang, sebuah Bandar yang ramai tempat berlabuhnya kapal, pencalang dan sekunar yang membawa barang dagangan dari dalam dan luar negeri. Raja dari Kerajaan ini berasal dari Kerajaan Aceh.

Asal-Muasal Kesultanan Bandar Khalifah
Sebagai kita ketahui pada akhir abad ke-15, di masa Sultan Aceh Musyaffar Syah, berhasil membangun sebuah kerajaan besar dengan menggabungkan dua kerajaan, yaitu Kerajaan Makuta Alam dengan Kerajaan Darul Qamar, sehingga menjadi sebuah Kerajaan besar dan kuat di ujung Pulau Sumatera dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam.

Seorang dari keturunan Kerajaan Darul Qamar bernama Baginda Saleh Qamar hijrah ke timur dengan kapal diiringi oleh pengawal dan hulubalangnya. Setelah beberapa lama berlayar tibalah pada sebuah muara sungai yang ramai dan letaknya sangat strategis, muara tersebut adalah muara sungai padang, Baginda sangat berkenan akan keadaan itu serta diperintahkannya agar kapal mudik menyusur sungai yang besar dan lebar itu, kira-kira ½ jam kapal menyusur sungai, sampailah disebuah desa, yang menurut Baginda Saleh Qamar sangat baik dijadikan tempat pemukiman. Kapal pun berlabuh dan kepada pengawal dan pengiring beliau diperintahkan untuk membuka hutan dan mendirikan pemukiman disebuah dataran dipinggir sungai itu.

Kedatangan Baginda ke daerah itu dielu-elukan oleh penduduk setempat yang belum berapa banyak, apalagi Baginda sangat ramah dan rendah hati serta sangat taat menjalankan syariat Agama Islam, dimana-mana didirikan tempat-tempat untuk menuntut dan memperdalam Ilmu Agama Islam. Rakyat secara spontan mengakui beliau sebagai Pemimpin dan Sultan dari Bandar Khalifah.

Maka terjalinlah hubungan intim, seperti hubungan di Kerajaan asal beliau, yaitu hubungan antara rakyat dan umara dan ulama, yang saling mengisi serta hormat menghormati. Pemukiman ini lekas berkembang, sehingga menjadi sebuah Kerajaan atau Bandar yang ramai dan makmur.

Baginda Saleh Qamar, Sultan satu-satunya dari Kesultanan Bandar Khalifah meninggal dunia saat terjadi penyerangan Kerajaan Siak ke Deli, dimakamkan di perkebunan besar Bandar Khalifah, diberi nisan batu, pula makamnya dibina tinggi, sayangnya makam tsb tidak terpelihara dengan baik dan kini tak nampak lagi bekas-bekasnya.

Selain menjadi Bandar yang ramai, Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran Agama Islam, dimana banyak terdapat Rumah Ibadah tempat berkhalwat (suluk), yang dipimpin oleh Khalifah-Khalifah yaitu Kepala atau pimpinan Agama. Itulah sebabnya Bandar ini dinamai Bandar Khalifah.

Sebagai Bandar perantara atau pelabuhan transit yang memperdagangkan hasil hutan yaitu damar, rotan dan rempah-rempah, budak belian, semuanya berasal dari Kerajaan Hulu atau Raya melalui Sungai Padang ditukar dengan barang-barang perhiasan, pakaian dan garam. Tidaklah heran kita bahwa Antara Kerajaan Raya di tanah Simalungun dengan Kerajaan Bandar Khalifah terjalin ikatan persahabatan yang erat, karena perdagangan kedua kerajaan itu saling menguntungkan dan yang satu dengan yang lainnya saling berketergantungan.

Sewaktu Kerajaan Siak menyerang Deli pada tahun 1619, tak dapat disangkal lagi Kesultanan Bandar Khalifah habis tergilas dalam penyerangan itu. Untuk menyelamatkan keturunan seorang putera kerajaan yang masih bayi bernama Umar, dititipkan secara rahasia sekali kepada sahabat beliau Raja di hulu sungai padang. Raja Umar inilah menurut legenda disebut anak buluh betung yang disalak anjing dan diberi marga Saragih Dasalak oleh Raja di hulu sungai padang tersebut.
Bendera dan Lambang Kerajaan Negeri Padang
Setelah Raja Umar dewasa, sebagai turunan darah “Bahari” beliau minta izin kepada ayah angkatnya untuk hilir merantau ke laut dan mendirikan kampung, di satu tempat dataran rendah yang dinamainya Bajenis. Di kampung inilah beliau menetap dan bertanam berjenis-jenis tanaman dengan teratur yang luasnya berpadang-padang yang akhirnya menjadi asal dari Kerajaan Negeri Padang dengan gelarnya Tuanku Umar Baginda Saleh Qamar.

Kuli Cina Bekerja di Perkebunan Tebing Tinggi Milik Pribumi Tahun 1930an

Posting Komentar untuk "Raja Negeri Padang I dan Kerajaan Aceh"