Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mesranya Republik dan Kerajaan Hindu Majapahit

Nusantara
Kita sering menyebut-nyebut istilah Nusantara sebagai sinonim dari Indonesia, namun, tahukah kita sejarah kata Nusantara itu sendiri? Sedikit dengan istilah Nusantara, Tengku Muhammad Dhani Iqbal pada tulisannya berjudul Istilah Nusantara, mengutip dari Agus Arismunandar, arkeolog, ahli Majapahit, menyatakan bahwa Sebelum Indonesia menjadi negara, kepulauan ini sebetulnya tak bernama dalam perspektif bumiputera. Di masa itu, masing-masing negeri urus diri sendiri.

Lalu, wilayah Nusantara yang dimaksud, mencakup wilayah mana saja? Apakah wilayah Republik Indonesia yang sekarang? Sedangkan wilayah Indonesia yang sekarang adalah berdasarkan wilayah dimana Belanda ada dan berkuasa, bentangannya dari Sabang sampai Merauke, disebut Kepulauan India, JB van Heutzs (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1904-1909, Wikipedia).

Kata Nusantara ada dan digunakan pertama kali pada karya Mpu Prapanca, Kitab Negarakertagama,” Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring SeramTanjungpura, ring Haru, ring PahangDompo, ring BaliSunda, PalembangTumasik, samana ingsun amukti palapa.


Terjemahannya adalah: "Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan pulau-pulau lain, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Dapat kita simpulkan, bahwa yang dimaksud Nusantara, menurut Kitab tersebut, adalah Pulau-Pulau lain, di luar kekuasaan Majapahit/ di luar Pulau Jawa, dalam konteks dicita-citakan untuk ditaklukkan. Sebagai kata majemuk, kata Nusantara diambil dari bahasa jawa kuno, yaitu nusa (pulau) dan antara (lain/seberang), menjadi Pulau-Pulau Lain/ Seberang.

Namun, apakah Sumpah tersebut tercapai? Prof. Dr. C.C. Berg melalui tulisan-tulisannya mengungkapkan, bahwa wilayah Majapahit hanya meliputi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Madura. Masuknya wilayah-wilayah lain di Nusantara, hanya merupakan cita-cita, dan tidak pernah masuk ke dalam wilayah Majapahit. (Lihat, Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit (Depok: Komunitas Bambu, 2009).

Jadi, kalau kita menyebut Nusantara untuk menggantikan atau sebagai sinonim Wilayah Republik Indonesia, saya kira janggal. Di satu sisi, makna Nusantara adalah wilayah di luar kekuasaan majapahit yang dicita-citakan Gajah Mada untuk ditaklukkan (Pulau-Pulau lain/ seberang), di sisi lain Indonesia adalah wilayah berdasarkan dimana Belanda pernah ada/ berkuasa. Terlihat jelas keduanya mempunyai makna yang sangat berbeda, tidak dapat saling menggantikan, hanya kebetulan saja, wilayah yang dicita-citakan gajah mada untuk ditaklukkan, cakupannya hampir mendekati wilayah yang dikuasai belanda.

Kata Nusantara juga, tidak tepat untuk menggantikan/ sinonim wilayah sebelum terbentuknya Republik. Dengan demikian, untuk penyebutan kepulauan-kepulauan sebelum terbentuknya Negara Indonesia, saya setuju dengan Tengku Muhammad Dhani Iqbal, menuliskannya sebagaimana orang-orang berbahasa Inggris memandang: India Timur, India Belakang, Kepulauan Melayu, atau Kepulauan India. Sebab, tambahnya lagi, nama-nama itu tak terikat pada paku-paku administrasi hari ini.

Cita-cita Kerajaan Hindu Majapahit diteruskan oleh Republik
Mesra, itulah kata yang dapat menggambarkan hubungan antara Republik dan Kerajaan Hindu Majapahit.

Sebut saja Majapahit memang tidak pernah menyatukan Nusantara, kita perlu fakta sejarah yang menguatkan hal itu pernah terjadi. Kebalikannya adalah apa yang ditanamkan Penguasa Republik di jawa, ke otak pelajar-pelajarnya. Saat saya menuntut ilmu di sekolah dasar republik, guru dan buku-buku sejarah yang ada, bahkan buku-buku Sejarah SMA yang saya baca saat SD menyatakan hal yang sama, bahwa Nusantara telah dipersatukan di masa Kerajaan Hindu Majapahit, di masa pemerintahan hayam wuruk dengan patihnya gajah mada, dengan kata lain wilayah yang disebut Nusantara itu mengalami masa keemasan pada masa berkuasanya Majapahit. Anehnya, hal itu selalu diaminkan oleh guru kita dan ditanamkan dengan sangat rapi di tempurung kepala kita.

Pernahkah terpikir kenapa pemerintah Republik di jawa, sangat kental dan mengagungkan Kerajaan Hindu Majapahit? Istilah-istilah Hindu kental dan jelas ada pada lambang-lambang resmi Republik.

Republik Alergi terhadap Islam dan Melayu?
Dalam tulisannya yang berjudul “Siapa menyatukan Nusantara”, Dr. Adian Husaini menyatakan bahwa upaya untuk membangun citra Indonesia mengalami zaman kejayaan saat berada di zaman pra-Islam, secara sistematis dikembangkan oleh para orientalis. T. Ceyler Young, seorang orientalis, membuat pengakuan: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”. (Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).”

Pada Perkembangan selanjutnya, setelah upaya meninggikan nilai dan kualitas di zaman pra Islam, Kerajaan Majapahit yang digambarkan gilang-gemilang itu, mulai mengalami kemunduran dan hilang dari peredaran disaat mulai berkembangnya Islam dan munculnya Kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Mohammad Natsir, seorang pahlawan nasional, menyebut upaya mengecilkan peran Islam dalam sejarah Indonesia sebagai sebuah bentuk ”nativisasi”. Sejak usia dini, anak-anak Muslim Indonesia sudah dicekoki dengan ajaran sejarah, bahwa Indonesia pernah jaya di bawah Kerajaan Majapahit. Lalu, datanglah kerajaan Islam bernama Kerajaan Demak, menghancurkan kejayaan Hindu tersebut.

Tujuan awal semua itu adalah untuk memudarkan sejarah Islam dan Sejarah lokal yang kental dengan ke-Islam-annya (Melayu). Setelah masuknya Islam, bermunculan Negara-Negara berbentuk Kerajaan dan Kesultanan bercirikan dan berlandaskan Islam, yang besarnya seperti Samudra Pasai, Aceh, Siak, Johor Riau Lingga, Demak, Banten, Pontianak, Gowa-Tallo, Ternate-Tidore dll, untuk yang kecilnya sebut saja Asahan, Langkat, Serdang, Pelalawan, Kualuh, Bima, dan lainnya, banyak sekali jumlahnya.


Kemunculan Kerajaan dan Kesultanan Islam tersebut di buku-buku sejarah sekolah dasar hingga menengah di republik, bukanlah untuk menunjukkan eksistensi dan Kejayaan Islam di bumi kepulauan Melayu, melainkan dimunculkan sebagai penyebab meredup dan musnahnya “ke-AGUNG-an” Kerajaan Hindu Majapahit yang diawal dinyatakan sebagai “katanya pemersatu Nusantara”.

Jadi, seolah-olah hendak ditanamkan kepada para siswa, bahwa kedatangan Islam tidak membangun kejayaan Nusantara, tetapi justru menghancurkan kejayaannya. Islam tidak pernah menjadi pemersatu bangsa, Majapahitlah yang menyatukan Nusantara. Padahal, tidak ada bukti sejarah yang kuat, Majapahit pernah menyatukan seluruh wilayah Nusantara.

Pemahaman sejarah yang salah tersebut telah dibantah oleh Dr. Adian, beliau menyatakan bahwa faktanya, sejarah telah membuktikan para ulama dan pendakwah Islam-lah yang menyatukan wilayah Nusantara dalam satu agama, satu Bahasa, dan satu pandangan alam (worldview). Bahkan, penyatuan itu sampai meliputi wilayah Thailand Selatan, Filipina Selatan, dan Malaka (Semenanjung Malaya?). Bahasa Melayu yang telah di-Islamkan menjadi alat pemersatu bangsa yang efektif.

Pencekokan pemahaman sejarah tersebut adalah salah satu cara pemerintah republik, untuk memudarkan sejarah Islam dan sejarah lokal di luar Jawa (Islam dan Melayu), serta memperkuat pijakan republik di jawa untuk mematok dan mencaplok wilayah di luar jawa yang diklaim sebagai Nusantara, sehingga dapat memasukkannya menjadi bagian dari wilayah Pemerintahan Republik. tentu Selain juga kampanye wilayah Indonesia menurut JB Van Heutzs dan kampanye yang katanya senasib dijajah oleh Belanda. 

Pudarkan Sejarahnya, Daur Ulang Masyarakatnya, lalu Kuasai Wilayahnya
Saya sendiri mulai sedikit mengerti keganjilan-keganjilan pada Sejarah Kepulauan Melayu ini sejak mempelajari sejarah daerah saya, yaitu Tebing Tinggi dan Sumatera Timur, karena saling berhubungan, jadi tak bisa hanya membaca tentang Sumatera Timur saja, berhubungan juga ke Aceh, Semenanjung Malaya, Riau dan lainnya, hal itu tidak lain karena wilayah-wilayah tersebut telah disatukan oleh Islam dan Melayu.

Gambaran Umum tersebut diatas, saya kerucutkan pada sebuah kesimpulan. Beginilah cara Republik bekerja, “Pudarkan sejarahnya”, lalu daur ulang masyarakatnya (re-public), para Pendiri Republik yang sebagian besarnya adalah didikan Belanda/ Eropa (Liberalis-Sekuler dan Sosialis-Komunis) serta masyarakat kejawen berperan besar dalam hal ini. Pada akhirnya, “kuasai wilayahnya”, momentumnya cepat sekali, tiba-tiba sudah takluk saja, dan tercapailah apa yang dicita-citakan Kerajaan Hindu Majapahit, yaitu menguasai Nusantara atau Pulau-Pulau lain di seberang Pulau Jawa yang telah terwakilkan oleh Republik.

Memang demikianlah yang terjadi pada negeri-negeri yang sekarang menjadi bagian dari Republik, terlepas apakah mungkin mereka mempelajari cara tersebut dari Amerika terhadap Suku Indian, namun dengan cara yang lebih halus.


Referensi
Nusantara. Wikipedia. 
Istilah Nusantara. Tengku Muhammad Dhani Iqbal
Negeri Taklukkan. Tengku Muhammad Dhani Iqbal
Siapa menyatukan Nusantara. Page Facebook Dr. Adian Husaini

2 komentar untuk "Mesranya Republik dan Kerajaan Hindu Majapahit"

Ary M. 9 September 2015 00.01 Hapus Komentar
Blog walking sampe juga ke Blog Ente yah. Main main ke tempat ane juga yah
Ma'arif Siregar 14 Oktober 2016 14.51 Hapus Komentar
@Ary Miranda:86 wak...