Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perang Aceh (Bagian 2)

Dibawah kondisi hubungan diplomatik Kesultanan Aceh yang semakin luas tersebut, terjadi pula perjanjian politik antara Kerajaan Protestan Belanda dan Kerajaan Protestan Anglikan Inggris. Mereka mengadakan tukar-menukar wilayah jajahan. Pantai Emas di Afrika dilepaskan oleh Kerajaan Protestan Belanda kepada Kerajaan Anglikan Inggris dalam Perjanjian November 1871 M.


Tukar-menukar wilayah jajahan tersebut bukan kali pertama dilakukan. Untuk melancarkan invasi serdadunya ke Aceh, dengan cara menempuh kerja sama pertahanan dengan saling menukar tanah jajahan.

Kerja sama antar kedua Negara imperialis ini, dituangkan dalam Perjanjian London (1824 M). Kedua Negara merasa memiliki kekuatan senjata dan armada perang serta memiliki persamaan agama, yaitu Protestan. Oleh karenanya dengan mudah bangsa lain dipertukarkan dan dibagi seenaknya.

Perang Aceh sendiri meletus setelah adanya perjanjian hubungan diplomatik antara Kesultanan Aceh dengan Konsul Amerika di Singapura. Kemudian diikuti dengan Italia. Kondisi tersebut mendorong Kerajaan Protestan Belanda segera menurunkan 3000 serdadunya untuk menduduki Banda Aceh pada Maret dan April 1873 M.


Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari Kapal Perang Citadel van Antwerpen. 8 April 1873, Belanda mendarat di pantai ceuremen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler. Kohler saat itu membawa 3.198 tentara, 168 diantaranya adalah Perwira.

Tentunya, kedatangan kafir Belanda ini disambut oleh rakyat Aceh dengan semangat Perang Sabil. Dampaknya, seperti ditulis M.C. Ricklefs, 80 orang serdadu Belanda mati dan Kohler pun mati terbunuh. Dengan adanya invasi militer Kafir Belanda tersebut, Sultan Mahmud Syah (1870-1874 M) meningkatkan hubungan diplomatik dengan negara lain.


Pertama, mengadakana hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Andrew Johnson (1865-1869 M). Usaha ini dapat diperkirakan kegagalannya karena Amerika Serikat merupakan produk dari Protestant Revolution pada 19 April 1775. Artinya, Amerika Serikat adalah negara protestan sehingga tidak mungkin membantu Aceh dan akan berhadapan dengan Kerajaan Protestan Belanda. Selain itu Amerika Serikat juga baru saja selesai dari Perang Saudara (1861-1865 M) pada masa Abraham Lincoln (1861-1865 M). Dengan demikian, kondisi dalam negerinya masih parah.

Kedua, Kesultanan Aceh minta bantuan kepada Kekaisaran Perancis dibawah Kaisar Napoleon III. Sekalipun sebagai penganut Katolik, Kekaisaran Perancis tidak mungkin dapat memberikan bantuan. Saat itu, Kekaisaran Perancis sedang mengalami keruntuhan. Hal ini diakibatkan adanya Perang Perancis-Jerman (1870-1871 M), runtuhlah kekaisaran Perancis dibawah Napoleon III.

Ketiga, Kesultanan Aceh dibawah Tuanku Muhammad Sultan Ibrahim Mansur Syah (1294-1295 H/ 1877-1878 M). Minta bantuan Kesultanan Turki Utsmani. Hasilnya pun dapat diperkirakan, Turki tidak mungkin memberikan bantuan karena sedang dalam Perang Turki-Rusia (1294-1295 H/ 1877-1878 M). Dua puluh tahun sebelumnya, Kesultanan Turki terlibat dalam Perang Krim (1269-1271 H/ 1853-1855 M).

Posting Komentar untuk "Perang Aceh (Bagian 2)"